Kafir, Peyorasi, Kearifan

Apa yang ada di pikiran anda saat saya mengajak anda ‘hepi-hepi di karaoke’ lalu ‘pijat-pijat di spa’? Bagi banyak orang ajakan tersebut membawa kesan negatif. Akibatnya banyak tempat usaha karaoke dan spa menambahkan kata ‘keluarga’ di belakangnya demi menanggalkan citra buruk yang sudah terlanjur melekat. Sebuah contoh sederhana proses peyorasi (perubahan makna kata menjadi berkesan lebih rendah/kasar daripada makna semula) pada kosakata.

Continue reading

Membaca

Dalam banyak kurikulum negara-negara maju, siswa dituntut untuk menghabiskan beberapa judul buku dalam satu tahun ajaran. Jenis buku disesuaikan dengan umur, di mana siswa kelas-kelas akhir diharapkan mampu membaca dan membuat laporan tentang karya-karya sastra klasik. Efeknya adalah anak-anak ini tumbuh dengan karakter terbiasa membaca buku. Membaca tidak lagi menjadi aktivitas yang asing dan buku bukan sesuatu yang aneh.
 
Mungkin ada yang bertanya, kenapa negara sangat perhatian pada kebiasaan warganya dalam membaca buku? Berbagai penelitian telah mengungkap banyak keuntungan membaca, baik pada anak maupun orang dewasa. Kemampuan berpikir analitik (runut dan logis) berawal dari kebiasaan membaca buku sedari kecil. Kemampuan untuk menerima dan terbuka terhadap perbedaan (toleransi) berasal dari banyak membaca berbagai buku. Kemampuan untuk menuangkan pikiran secara lisan dan tulisan bisa dilatih dengan banyak membaca. Dan tentu saja membaca meningkatkan daya fokus, konsentrasi, dan intelegensia.
 
Jadi saya tidak terlalu kaget saat membaca berita bahwa Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara dalam sebuah survey minat baca. Di negeri tercinta Indonesia, kita masih banyak melihat orang-orang yang tidak mampu berpikir rasional, tidak toleran terhadap perbedaan, serta tidak mampu menyatakan pendapat secara dewasa. Sedihnya, bila melihat kebiasaan membaca masyarakat di tanah air, rasanya hal ini tidak akan segera berubah.
 
Maka wahai para orang tua, ayo kita tanamkan sifat membaca pada anak-anak. Bila berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan, selalu sempatkan berkunjung ke toko buku. Bisa sekedar melihat-lihat, lebih baik jika memborong buku. Kita tahu anak belajar dari orang tuanya. Maka dari itu biasakan sebagai orang tua kita juga membaca buku di rumah. Setengah hingga satu jam sehari rasanya sudah cukup. Semoga anak-anak bangsa saat ini dapat mencintai buku, gemar membaca, dan menjadi generasi yang jauh lebih baik dari generasi-generasi sebelumnya.
 

Continue reading

Resep dan Biaya Kesehatan

Di negara kita ada sebuah ungkapan yang lucu sekaligus perih: orang miskin dilarang sakit. Lucu karena sifatnya yang menertawakan diri sendiri, menertawakan kondisi pelayanan kesehatan yang gitu-gitu aja. Ungkapan tersebut juga terasa perih karena kita masih dapat melihat orang-orang yang tidak mampu mendapat layanan kesehatan. Mulai dari kendala infrastruktur hingga tidak mampu secara finansial.
Continue reading

Hari #12: Smonday

Beberapa hari lalu saya mempelajari sebuah kata baru: smonday. Menurut definisi yang saya dapat di internet, smonday dapat diartikan sebagai: emosi yang kita rasakan saat hari Minggu tak lagi terasa seperti hari Minggu dan rasa gelisah akibat semakin dekatnya hari Senin mulai merasuk. Saya yakin kita semua pernah mengalaminya. Apakah dulu sewaktu masih sekolah atau saat sudah menjadi pekerja.

Continue reading

Hari #8: Mudik

Ah, mudik. Kegiatan rutin tahunan jutaan warga negara yang besar dan indah ini. Menghabiskan belasan jam di perjalanan, menempuh jarak ratusan hingga ribuan kilometer. Sebagian bahkan sambil tetap menahan lapar dan dahaga. Dan semua keletihan itu terhapus saat disambut senyum dan tawa handai taulan di kampung halaman. Ah, mudik. Ingin sekali saya merasakan tradisi itu.

Continue reading