CME

Yang ada hanya kekacauan. Semuanya telah kosong dan ditinggalkan. Jalanan kini hanyalah sebuah cermin keputusasaan dari sebuah peradaban yang pernah digdaya.

Manusia-manusia di sekelilingku terombang-ambing dalam kekacauan. Aku terdiam sejenak, wajah-wajah kosong itu menerkam kesunyian di dalam jiwa yang putus asa dan tak percaya.

Sebagian mereka berlari tanpa arah, sebagian terdiam menatap langit bersimbah air mata. Tapi yang terberat dari semua itu adalah melihat anak-anak di dalam pelukan orang tua mereka.

Aku mengetuk pintu dari masa kecilku. Dan di sana mereka berdiri, dua orang di dunia ini yang akan kudatangi untuk menghabiskan usia.

“Kemari nak…” Ayahku berusaha untuk tegar. Mungkin sekaligus sedikit lega, anak dan istrinya ada di sini. Bertahun-tahun dia melindungi aku dan ibuku. Dan kini ia akan berusaha melakukannya lagi. Walaupun dari bekas air mata di wajahnya, aku tahu bahwa ia pun tahu, itu semua akan sia-sia.

Matahari, pemberi hidup bagi semua yang bernafas di muka Bumi. Matahari, yang sesaat lagi akan mengambil semua yang telah pernah ia beri.

#100kata8 #Day06
*CME = Coronal Mass Ejection. Wikipedia article on CME.

Advertisements

Oleander

Aku mencintaimu, sungguh.

Aku tahu saat ini mungkin sulit bagimu untuk percaya, tapi ketahuilah bahwa aku akan melakukan apa saja agar kita selalu bersama.

Aku akan melakukan segalanya agar tak pernah merasakan sakit itu lagi. Kepedihan saat engkau pergi membawa hatimu. Meninggalkanku menangis setiap malam di kamar ini. Di kamar tempat engkau dulu berjanji tak akan pernah melukaiku.

Sayang, ingatkah engkau dulu saat kita pertama bertemu di taman? Engkau berkata bahwa tidak ada bunga di taman manapun di dunia yang lebih indah dari aku. Engkau begitu konyol, tapi aku langsung jatuh cinta padamu saat itu juga.

Tapi biarlah semua kenangan dan kepedihan itu berlalu. Dosis ini cukup untuk membuat jantungmu berhenti selamanya, sayang. Dan sesaat lagi, engkau menjadi milikku selamanya.

Aku mencintamu, sungguh.

#100kata8 #Day05

Thames

Dari sini Thames terlihat sangat indah. Lampu-lampu kota terpendar dalam riaknya. Untuk satu kali dalam hidupku, di sini dalam dingin angin malam, di detik ini, segalanya seperti yang aku inginkan. Sempurna.

Dua puluh tujuh tahun. Waktu yang sangat cepat bagi sebagian orang, namun berjalan sangat lambat bila engkau mengalami apa yang aku alami.

Aku berdiri sendiri ditemani segelas minuman, membilas semua luka. Di dalam, keriuhan pesta ulang tahunku mulai sirna menemani rembulan.

Dua puluh tujuh tahun. Waktu yang cukup untuk merasakan semua kepedihan yang dapat diterima oleh sebuah jiwa. Teriakan istriku adalah hal terakhir yang ku dengar saat tubuhku jatuh melayang dari pinggir balkoni.

Lalu hanya ada hembusan angin. Kesunyian. Kedamaian yang aku cari selama ini.

#100kata8 #Day04

Kage

Di dalam sebuah terminal subway di Yokohama, menjelang pukul 10 malam.

Seorang pemuda menunggu kereta menuju rumah. Tumpukan kertas dari kantor digenggamnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya memukul-mukul pundak, mencoba menghilangkan rasa pegal.

“Kerja lembur?” seorang bapak tua yang duduk di sebelahnya bertanya. Ia tersenyum pada pemuda itu.

“Iya, pekerjaan di kantor menjelang musim panas seperti ini memang melelahkan.” Si pemuda menjawab dengan sopan, orang lain mungkin hanya akan tersenyum sedikit. Rasa pegal di pundaknya amat menyiksa.

Kereta yang ditunggu tiba, pemuda itu berdiri, membungkuk sedikit pada bapak tua untuk berpamitan, lalu masuk ke dalam kereta.

Bapak tua tadi menatap sang pemuda melalui jendela kereta yang berjalan meninggalkan stasiun. Ia menghela nafas. Ia tak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok bayangan perempuan yang bergelayutan pada pundak pemuda itu.

#100kata8 #Day03

Icarus

orbit Planet F, Gliesse 667C, 2467CE

Aku tidak peduli apa yang dikatakan oleh profesor tua itu. Rancangan baru ini pasti akan berhasil. Semua kalkulasi final selama berbulan-bulan akan dibuktikan saat mesin prototipe ini melipat ruang dan waktu. Dan seluruh akademisi mulai dari sistem bintang Pollux hingga Solaris akan mengakui kecemerlanganku.

Si pikun dari Akademi Sains Kekaisaran itu, dia hanya takut bahwa keberhasilanku akan menafikan postulatnya, dan secara efektif menghapus namanya dari kanal sains dan teknologi abad 25.

Aku menghalangi semua akses ke pangkalan geostasioner, stasiun angkasa tempat aku bekerja selama 5 tahun terakhir. Rupanya pihak keamanan telah dihubungi dan dalam perjalanan ke sini dari permukaan. Bersenjata lengkap.

Baiklah, dari awal aku tahu bahwa semuanya akan mengarah ke situasi ini. Mengirimkan organisme kompleks melalui dimensi lain, hanya satu orang yang cukup gila untuk melakukannya.

Jika ini berhasil, aku akan menembus 10 ribu tahun cahaya dalam hitungan 1 detik. Jika gagal, mungkin kita bisa berjumpa lagi di neraka.

#100kata8 #Day02

Eva

Bumi, 200.000 BCE

Tugasku di sini sudah selesai, saatnya kembali. Begitu satelit pengawas menerima sinyal, mereka akan mengirimkan hoverpod yang akan membawaku meninggalkan planet primitif ini. Semoga badai petir tidak menghalangi jalur komunikasi.

Siapa itu manusia primitif yang mendekati pos pengawasan. Muatan listrik di atmosfer mengganggu tabir kasat mata, membuat posisiku samar-samar terlihat. Tidak ada jalan lain, ia telah berada tepat di dasar pos, aku harus melakukan penghapusan memori secara manual.

“Adama..”

Dia berbicara seolah memperkenalkan diri. Ia tidak tampak takut. Tidak seperti manusia primitif lainnya yang bertemu dengan para pengamat sepertiku sebelumnya.

“Eva”

Entah mengapa tiba-tiba aku ingin memperkenalkan diriku juga kepadanya.

Hoverpod berkendali otomatis itu berada tepat di atas kepala, sinar penariknya mulai mengangkat tubuhku. Aku masih mengarahkan alat penghapus memori ke Adama.

Tapi terlambat, hanya dalam hitungan detik aku berada di dalam hoverpod. Apakah aku sempat menghapus ingatan temporernya? Menghapus ingatan pria primitif itu akan seorang perempuan yang terbang ke langit?

#100kata8 #Day01

Sirius

ISS 3, 14 Juni 2078

Sudah satu minggu aku di sini. Lambaian tangan Leyla saat di pelukan istriku masih membekas di benak. “Ayah, bawakan aku bintang ya..” ucap gadis kecilku saat itu. Senyumannya mampu menghapus keraguanku, bersamaan dengan merekahnya kerinduan mendalam.

Beberapa saat lagi persiapan untuk keberangkatanku akan berakhir. Pengisian bahan bakar telah selesai. Konfigurasi warp drive telah ditetapkan. Tidak ada lagi waktu untuk turun kembali ke Bumi.

Continue reading

See Me On The North Lane

Namaku Alena. Sepanjang yang aku ingat, tiap petang aku selalu menunggu kereta di Terminal Utara. Hiruk pikuk stasiun di sore hari adalah hiburan tersendiri untukku. Sejak dulu aku memang gemar mengamati orang-orang di sekitarku. Dan di jam pulang kerja seperti ini, frustasi, amarah, kegembiraan, kecerobohan, dan romansa tersaji di depan mata.

Namaku Dimitri. Setiap hari sepulang dari kantor, aku selalu menyempatkan untuk singgah ke toko bunga di seberang jalan. Bukan, aku membelinya bukan karena aku ada kencan setiap malam. Tapi aku bisa mengatakan bahwa aku membelinya untuk orang yang sangat aku kasihi.

Continue reading