“Senja Datang” (Musikalisasi Puisi)

Segala yang memiliki awal, pasti memiliki akhir. Karena akhir adalah keniscayaan.

Lebih dari satu tahun sejak Dila memukau saya dengan musikalisasinya terhadap puisi saya, akhirnya bagian ketiga dari sebuah trilogi pun lengkap. Penantian yang sangat sepadan, musikalisasi “Senja Datang” oleh Dila menjadi sebuah karya yang sangat menggugah, penuh emosi, sebuah kemenangan rasa. I am so humbled.

Di musikalisasi ini saya juga mendapat kehormatan karena diberi izin oleh seorang musisi berbakat untuk menggunakan karyanya. Terima kasih kepada Febriann (Layur) yang memperbolehkan lagunya “Secangkir Teh, Rintik Hujan dan Beberapa Baris Melodi” yang indah untuk digabungkan dengan puisi saya yang sederhana ini.

Both of you, thank you. Such an honor.

*Klik tautan artikel untuk menampilkan puisi.

Continue reading

“Kala Cinta Tiba” (Musikalisasi Puisi)

Setelah musikalisasi puisi saya yang pertama oleh Dila, I was a bit addicted. Berulang kali saya memohon-mohon agar dibuatkan musikalisasi yang kedua. And it’s finally here… 😀 an intricate and beautiful musicalization of my poem “Kala Cinta Tiba”.  Yang menarik adalah interpretasi dari Dila mungkin agak berbeda dengan saya. If this poem was a house, Dila added new windows to views I never new existed. Amazing.

*Klik tautan artikel untuk menampilkan puisi.

Continue reading

A Collection of Old Poems, pt. 2

Satu Lagi
Agustus 2004

hampa terasa saat malam menutup hatimu
yang tak pernah sepenuhnya menjadi milikku

langkah kakimu saat kau menjemput perpisahan
apakah ini akhir dari segala perwujudan hati

mungkin salahku tak pernah percaya
cintamu akan seutuhnya meluruh
melebur nihil
cerita ini yang begitu lama terjalin
terhenti dalam sesaat, dan dalammu hilang

satu lagi jatuh bara perpisahan kita
keputusasaan di saat semuanya mulai terasa indah

dengarkan aku yang berteriak hening menangis
mendambakan kejernihan hati
bersabarlah sayang

Continue reading

A Collection of Old Poems, pt. 1

Seindah Lidah Api
Mid May 2002

pandanganmu menari dalam benakku
menggelitik setiap nukleus
melepas euforia
melucuti logika
seperti hanya kau yang bisa

kau yang seindah api
yang berpendar menyebar
yang menelan semua yang ada di hadapanmu
antara kau dan aku
membakar tanpa sisa

saat kau bersuara
hanya ada dirimu di benakku
memenuhi neuronku
dopamin dan adrenalin
seperti hanya kau yang bisa

kau yang membuatku terpesona
dengan segala keagunganmu
setiap kali mampu membuatku kehilangan kendali
kau yang seindah lidah api
jadikan aku arang

Continue reading

Dedaunan Musim Semi

seperti angin yang membelai wajahku,
seperti embun yang membunuh dahagaku,
seperti rembulan yang membisikkan namamu,
bibir membisu, jiwa berteriak, “aku rindu”

bila jarak yang membentang menghalang,
bila asa yang pernah ada, kini pergi dan hilang
bila hanya citramu melekat di jiwaku yang malang
biarlah kuhabiskan sisa hidupku dalam gamang

karena engkaulah yang pernah meniupkan bara
karena engkaulah yang pernah menghidupkan cita
karena dirimu jua, aku mengerti dan menjalani fana
bila yang kita rasa dulu adalah cinta, maka pedih ku tak sia-sia

 

*for that special someone who share a cup of coffee with me under the Jakarta stars, years ago..

Tiga Detik

itu adalah tiga detik terlama dalam hidupku
saat perak berlalu di antara kayu;
saat sinar menoreh luka di retina
yang tercabik raga, pemasung jiwa

bukan biasa ini tak sengaja
aku diam tak mampu bicara;
kaki terpaku aku termangu
dewi memandang sembuhkan rindu

dalam tiga detik yang berhenti
lupa berdegup, jantungku mati;
keindahan langit telah didaulatkan
pada inkarnasimu, wahai puan

dan tersadar, ku tak mau enyah
ruang piluku telah kau debur basah;
ingin menyentuh membunuh akal,
mungkinkah afeksi berakhir sesal?

di sana untuk selamanya aku mau
di tiga detik yang hening itu;
terus tak lepas, kupandangi dan kulihat
karena romansa berakhir di hitungan ke empat