Tanggapan Atas Tanggapan Atas “Warisan”

Beberapa hari yang lalu, Afi Nihaya Faradisa, seorang siswi SMA dari Banyuwangi membuat tulisan berjudul Warisan yang lantas menjadi viral. Dari yang saya baca, inti tulisan tersebut adalah mengajak bangsa Indonesia untuk berhenti menilai orang lain dari agamanya. Berhenti merasa lebih baik dari yang lain hanya karena perbedaan iman. Menurut saya sebuah tulisan dengan isi yang luhur. Sama sekali tidak ada yang salah dari pesan yang hendak ia sampaikan.

Continue reading

Kenapa RK Harus Dibela

Keputusan Ridwan Kamil untuk maju sebagai calon gubernur di Pilkada Jabar mulai menunjukkan reaksi. Dan bukan reaksi yang bersifat positif atau alami. Seperti yang dilaporkan di artikel ini, berbagai fitnah dan serangan atas pribadi RK mulai bermunculan di media. Beberapa orang mungkin lantas bertanya: kenapa harus membela RK? Memangnya apa prestasi dia untuk Bandung, untuk negara?

Continue reading

Video Bodoh Kampanye

Saya bukan pendukung paslon mana-mana di Pilkada DKI. KTP saya Bandung, domisili pun di Perth. Saya tidak suka FPI sejak belasan tahun lalu dan saya menertawakan aksi Anies Baswedan yang berkunjung ke markas mereka.

Tapi kecerobohan Anies tersebut dikalahkan oleh kecerobohan Ahok yang menerbitkan sebuah video kampanye tidak sensitif dan bodoh beberapa hari lalu di medsos. Berikut alasan saya atas kritik terhadap video tersebut:

Continue reading

Tugas Membaca

Salah satu hal yang saya sukai dari sistem edukasi di Australia adalah tugas membaca (reading assignment). Setiap beberapa hari setiap anak akan membawa pulang buku untuk dibaca di rumah. Orang tua dapat berdiskusi dengan anak tentang buku yang sudah selesai ia baca. Topik diskusinya bebas. Orang tua dapat meminta anak menceritakan ulang isi buku atau sekedar menanyakan kesan anak terhadap buku yang baru ia baca. Kita juga dapat berdiskusi tentang kosakata-kosakata baru yang mungkin belum dimengerti oleh anak. Materi yang dibaca tidak akan keluar dalam ujian atau tes. Tugas ini hanya untuk melatih kemampuan bahasa dan membaca para siswa. Dan tentu saja mengakrabkan mereka dengan buku.

Continue reading

Kafir, Peyorasi, Kearifan

Apa yang ada di pikiran anda saat saya mengajak anda ‘hepi-hepi di karaoke’ lalu ‘pijat-pijat di spa’? Bagi banyak orang ajakan tersebut membawa kesan negatif. Akibatnya banyak tempat usaha karaoke dan spa menambahkan kata ‘keluarga’ di belakangnya demi menanggalkan citra buruk yang sudah terlanjur melekat. Sebuah contoh sederhana proses peyorasi (perubahan makna kata menjadi berkesan lebih rendah/kasar daripada makna semula) pada kosakata.

Continue reading

Membaca

Dalam banyak kurikulum negara-negara maju, siswa dituntut untuk menghabiskan beberapa judul buku dalam satu tahun ajaran. Jenis buku disesuaikan dengan umur, di mana siswa kelas-kelas akhir diharapkan mampu membaca dan membuat laporan tentang karya-karya sastra klasik. Efeknya adalah anak-anak ini tumbuh dengan karakter terbiasa membaca buku. Membaca tidak lagi menjadi aktivitas yang asing dan buku bukan sesuatu yang aneh.
 
Mungkin ada yang bertanya, kenapa negara sangat perhatian pada kebiasaan warganya dalam membaca buku? Berbagai penelitian telah mengungkap banyak keuntungan membaca, baik pada anak maupun orang dewasa. Kemampuan berpikir analitik (runut dan logis) berawal dari kebiasaan membaca buku sedari kecil. Kemampuan untuk menerima dan terbuka terhadap perbedaan (toleransi) berasal dari banyak membaca berbagai buku. Kemampuan untuk menuangkan pikiran secara lisan dan tulisan bisa dilatih dengan banyak membaca. Dan tentu saja membaca meningkatkan daya fokus, konsentrasi, dan intelegensia.
 
Jadi saya tidak terlalu kaget saat membaca berita bahwa Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara dalam sebuah survey minat baca. Di negeri tercinta Indonesia, kita masih banyak melihat orang-orang yang tidak mampu berpikir rasional, tidak toleran terhadap perbedaan, serta tidak mampu menyatakan pendapat secara dewasa. Sedihnya, bila melihat kebiasaan membaca masyarakat di tanah air, rasanya hal ini tidak akan segera berubah.
 
Maka wahai para orang tua, ayo kita tanamkan sifat membaca pada anak-anak. Bila berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan, selalu sempatkan berkunjung ke toko buku. Bisa sekedar melihat-lihat, lebih baik jika memborong buku. Kita tahu anak belajar dari orang tuanya. Maka dari itu biasakan sebagai orang tua kita juga membaca buku di rumah. Setengah hingga satu jam sehari rasanya sudah cukup. Semoga anak-anak bangsa saat ini dapat mencintai buku, gemar membaca, dan menjadi generasi yang jauh lebih baik dari generasi-generasi sebelumnya.
 

Continue reading

Hari #12: Smonday

Beberapa hari lalu saya mempelajari sebuah kata baru: smonday. Menurut definisi yang saya dapat di internet, smonday dapat diartikan sebagai: emosi yang kita rasakan saat hari Minggu tak lagi terasa seperti hari Minggu dan rasa gelisah akibat semakin dekatnya hari Senin mulai merasuk. Saya yakin kita semua pernah mengalaminya. Apakah dulu sewaktu masih sekolah atau saat sudah menjadi pekerja.

Continue reading