Terpinggirkan, Sombong, dan Mencari Kebahagiaan

Dari ribuan percakapan saya dengan penganut paham FE saya menyadari adanya sebuah pola. Tiga buah ciri menonjol yang menjadi motivasi mereka dalam usaha menyebarkan pahamnya. Ciri-ciri yang saya amati dari bentuk retorika dan pola interaksi mereka di berbagai media daring (forum web, Facebook, dsb.).

KAUM MARJINAL

Mereka terpinggirkan di berbagai aspek kehidupan. Mulai dari terpinggirkan secara akademis, ekonomis, hingga sosial. Tapi mereka tetap berusaha didengar. Salah satunya menggunakan corong seperti paham Flat Earth. Di sini para teoris amatiran menemukan dunia dan orang-orang yang sama dengan mereka.

Sering kali cara komunikasi yang ditunjukkan mencerminkan kapasitas yang membuat mereka terpinggirkan. Jadi tidak mengherankan bila alih-alih mengemukakan teori/penjelasan tentang kosmologi atau cara kerja dunia yang mereka percayai, mereka cuma mampu menyebarkan meme, umpatan, atau sanggahan. Sama sekali tidak ada sumbangsih dalam bentuk ilmu pengetahuan, informasi, atau pemahaman. Semakin keras umpatannya atau semakin gencar meme-nya, saya asumsikan bahwa semakin besar keinginan mereka diakui. Dan secara tidak langsung menunjukkan betapa semakin mereka terpinggirkan dalam kehidupan nyata.

AROGANSI

Banyak penganut FE yang mengakui kalau mereka tidak menerima sains hanya karena tidak “sreg”. Tidak cocok di hati. Ada keengganan untuk menerima kenyataan bahwa mereka memang tidak menguasai cukup sains untuk memahami fenomena alam. Seperti anak SD yang menganggap kalkulus sebagai kebohongan, karena mereka cuma mengerti aritmetika.

Kapasitas intelektual yang kurang memadai ini menghalangi banyak orang untuk memahami fakta-fakta yang sudah diungkapkan oleh sains dan teknologi. Tetapi karena arogansi, mereka justru menyalahkan sains. Menyebutnya “salah“.
Ini sebenarnya cuma kata lain untuk “saya tidak mengerti“. Sebagian ada yang mengatakan sudah “mencapai pencerahan“, “terbebas dari GE (pen: Globe Earth, istilah mereka untuk orang-orang yang mengerti sains)”. Bukannya mencoba belajar lagi untuk memahami ilmu pengetahuan, mereka memilih untuk menyerah, melepaskan usaha untuk memahami ilmu pengetahuan. Semua akibat arogansi.

Begitu arogannya sampai ada yang merasa mereka lebih tahu dari jutaan ilmuwan yang puluhan tahun mendedikasikan hidupnya pada ilmu pengetahuan. Bahkan mereka mengatakan prestasi para ilmuwan tersebut cuma kebohongan. Sampai ada yang mengatakan bahwa penghargaan Nobel cuma panggung gemerlap tanpa esensi. Cuma akal-akalan konspirasi “elite global“. Sebuah pertunjukan sifat arogansi maksimum oleh para penganut paham sesat FE.

PENCARI KEBAHAGIAAN

Efek dari terpinggirkan di kehidupan dan ketidakmampuan memahami sains, mereka butuh pelarian. Butuh orang-orang untuk berbagi keluh kesah. Dan di aliran-aliran kepercayaan seperti FE ini mereka menemukannya.

Itu sebabnya mereka menolak segala macam bukti. Kata-kata “hoax“, “CGI“, meme sanggahan, tafsir agama asal-asalan, dan sebagainya adalah senjata utama mereka untuk membela diri. Karena di paham-paham seperti FE lah mereka menemukan corong suara & alasan untuk eksis. Segala hal yang berusaha menggoyahkan tempat pelarian mereka berarti serangan pada sumber kebahagiaan mereka. Serangan langsung pada sumber kebahagiaan hidupnya.

Itu sebabnya mereka akan gigih mempertahankannya, walau tanpa dukungan fakta dan akal sehat. Walau hanya mampu mengirimkan sanggahan berupa kata-kata subyektif, umpatan, meme, dan tak pernah berupa data ilmiah.

Semoga menjadi pembelajaran buat kita semua. Wallahualam bishawab.

Tugas Membaca

Salah satu hal yang saya sukai dari sistem edukasi di Australia adalah tugas membaca (reading assignment). Setiap beberapa hari setiap anak akan membawa pulang buku untuk dibaca di rumah. Orang tua dapat berdiskusi dengan anak tentang buku yang sudah selesai ia baca. Topik diskusinya bebas. Orang tua dapat meminta anak menceritakan ulang isi buku atau sekedar menanyakan kesan anak terhadap buku yang baru ia baca. Kita juga dapat berdiskusi tentang kosakata-kosakata baru yang mungkin belum dimengerti oleh anak. Materi yang dibaca tidak akan keluar dalam ujian atau tes. Tugas ini hanya untuk melatih kemampuan bahasa dan membaca para siswa. Dan tentu saja mengakrabkan mereka dengan buku.

Continue reading

Kafir, Peyorasi, Kearifan

Apa yang ada di pikiran anda saat saya mengajak anda ‘hepi-hepi di karaoke’ lalu ‘pijat-pijat di spa’? Bagi banyak orang ajakan tersebut membawa kesan negatif. Akibatnya banyak tempat usaha karaoke dan spa menambahkan kata ‘keluarga’ di belakangnya demi menanggalkan citra buruk yang sudah terlanjur melekat. Sebuah contoh sederhana proses peyorasi (perubahan makna kata menjadi berkesan lebih rendah/kasar daripada makna semula) pada kosakata.

Continue reading

Membaca

Dalam banyak kurikulum negara-negara maju, siswa dituntut untuk menghabiskan beberapa judul buku dalam satu tahun ajaran. Jenis buku disesuaikan dengan umur, di mana siswa kelas-kelas akhir diharapkan mampu membaca dan membuat laporan tentang karya-karya sastra klasik. Efeknya adalah anak-anak ini tumbuh dengan karakter terbiasa membaca buku. Membaca tidak lagi menjadi aktivitas yang asing dan buku bukan sesuatu yang aneh.
 
Mungkin ada yang bertanya, kenapa negara sangat perhatian pada kebiasaan warganya dalam membaca buku? Berbagai penelitian telah mengungkap banyak keuntungan membaca, baik pada anak maupun orang dewasa. Kemampuan berpikir analitik (runut dan logis) berawal dari kebiasaan membaca buku sedari kecil. Kemampuan untuk menerima dan terbuka terhadap perbedaan (toleransi) berasal dari banyak membaca berbagai buku. Kemampuan untuk menuangkan pikiran secara lisan dan tulisan bisa dilatih dengan banyak membaca. Dan tentu saja membaca meningkatkan daya fokus, konsentrasi, dan intelegensia.
 
Jadi saya tidak terlalu kaget saat membaca berita bahwa Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara dalam sebuah survey minat baca. Di negeri tercinta Indonesia, kita masih banyak melihat orang-orang yang tidak mampu berpikir rasional, tidak toleran terhadap perbedaan, serta tidak mampu menyatakan pendapat secara dewasa. Sedihnya, bila melihat kebiasaan membaca masyarakat di tanah air, rasanya hal ini tidak akan segera berubah.
 
Maka wahai para orang tua, ayo kita tanamkan sifat membaca pada anak-anak. Bila berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan, selalu sempatkan berkunjung ke toko buku. Bisa sekedar melihat-lihat, lebih baik jika memborong buku. Kita tahu anak belajar dari orang tuanya. Maka dari itu biasakan sebagai orang tua kita juga membaca buku di rumah. Setengah hingga satu jam sehari rasanya sudah cukup. Semoga anak-anak bangsa saat ini dapat mencintai buku, gemar membaca, dan menjadi generasi yang jauh lebih baik dari generasi-generasi sebelumnya.
 

Continue reading

Hari #12: Smonday

Beberapa hari lalu saya mempelajari sebuah kata baru: smonday. Menurut definisi yang saya dapat di internet, smonday dapat diartikan sebagai: emosi yang kita rasakan saat hari Minggu tak lagi terasa seperti hari Minggu dan rasa gelisah akibat semakin dekatnya hari Senin mulai merasuk. Saya yakin kita semua pernah mengalaminya. Apakah dulu sewaktu masih sekolah atau saat sudah menjadi pekerja.

Continue reading

Hari #8: Mudik

Ah, mudik. Kegiatan rutin tahunan jutaan warga negara yang besar dan indah ini. Menghabiskan belasan jam di perjalanan, menempuh jarak ratusan hingga ribuan kilometer. Sebagian bahkan sambil tetap menahan lapar dan dahaga. Dan semua keletihan itu terhapus saat disambut senyum dan tawa handai taulan di kampung halaman. Ah, mudik. Ingin sekali saya merasakan tradisi itu.

Continue reading